Pierre dan komposisi) modal yang mereka miliki. Dengan

Pierre Bourdieu
menggambarkan masyarakat seperti sebuah arena (champ) yang tersusun dan saling
berkaitan satu sama lain.  Ada
bermacam-macam arena dalam dunia sosial; arena pendidikan, arena ekonomi, arena
politik, arena seni, arena budaya, arena agama dan lain sebagainya. Berbagai agen
baik individu maupun kelompok (institusi) tidak bergerak dalam ruang kosong akan
tetapi bergerak dalam arena (champ)
sosial. Ranah sosial digambarkan sebagai sebuah arena pertempuran atau arena
perjuangan untuk merebut kekuasaan diantara kekuatan-kekuatan yang ada dengan habitus yang dimiliki oleh
masing-masing pelaku sosial. Pertarungan yang terwujud bisa berupa
merekonstruksi, mengganti atau bahkan mempertahankan arena kekuasaan. Dari
latarbelakang inilah Bourdieu menyadari dan selanjutnya mambangun konsep champ sebagai salah satu dari
tiga kata kunci teorinya untuk melihat arena  sosial dan bagaimana habitus yang dimiliki masing-masing
agen dapat mendominasi ranah sosialnya.

Champ (ranah atau arena perjuangan
sosial) dalam konsepsi sosiologi Bourdieu digunakan untuk memetakan dan
sekaligus untuk menunjukkan keberadaan medan-medan perjuangan yang melahirkan
pusat-pusat kekuasaan; serta sebagai alat untuk melakukan pengelompokan
masyarakat berdasarkan jumlah dan struktur (jumlah dan komposisi) modal yang
mereka miliki. Dengan demikian, konsep ini mengoreksi metode (konsep)
pengelompokan masyarakat yang dilakukan Marx yang membagi masyarakat ke dalam kelas
sosial secara antagonis atas dasar kriteria ekonomi: borjuis versus proletar,
majikan versus buruh; dan juga mengkritisi analisis sosial Weber yang
mengelompokkan masyarakat dalam kerangka strata sosial yang mendasarkan pada
kekuasaan, prestise, dan kekayaan.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dengan konsep champ, Bourdieu
menggambarkan dunia sosial dalam bentuk ruang yang di dalamnya terdapat
dimensi-dimensi (ruang-ruang yang lebih kecil), dan masing-masing ruang
mengonstruksikan kelas-kelas sosial tersendiri.1
Di dalam ruang-ruang sosial yang kecil itu, para pelaku sosial menempati
posisinya masing-masing berdasarkan prinsip diferensiasi dan distribusi modal.
Artinya, posisi pelaku-pelaku sosial dalam ruang-ruang sosial yang (lebih)
kecil itu terafirmasi dalam kelas-kelas sosial (kelas dominan, kelas borjuasi
kecil, atau kelas popular) berdasarkan jumlah dan struktur modal yang mereka
miliki, atau berdasarkan kepemilikan, besaran, dan komposisi modal
masing-masing.

Dengan demikian, tidak seperti konsepsi Marx yang
menyatakan eksistensi kekuasaan terkait erat dengan, dan ditentukan oleh,
penguasaan modal ekonomi semata; Bourdieu berpendapat bahwa kekuasaan terkait
erat dan ditentukan oleh kepemilikan, besaran (akumulasi), dan komposisi
modal-modal; di mana dalam setiap medan perjuangan sosial, modal-modal tersebut
mempunyai posisi dan bobot yang berbeda-beda sesuai dengan medan perjuangan
sosial terkait. Dalam medan perjuangan sosial tertentu, mungkin modal ekonomi
yang paling menentukan; tetapi, di medan perjuangan sosial lainnya, mungkin
modal budaya, modal sosial, atau modal simbolik yang paling menentukan. Sebagai
contoh, dalam arena bisnis (dunia usaha), mungkin modal ekonomi yang paling
menentukan; dalam arena politik (dunia politik), mungkin modal sosial yang
paling menentukan; dalam dunia pendidikan, mungkin modal budaya dan modal
simbolik yang paling menentukan; begitu seterusnya.

Konsep champ yang dipakai Bourdieu, pada
dasarnya, adalah tempat persaingan dan perjuangan; tempat individu-individu
yang memiliki berbagai sumber daya serta menggunakannya sebagai modal
perjuangan untuk memperebutkan, memperoleh, dan mempertahankan dominasi,
prestise, kekuasaan, dan (pada akhirnya juga) kekayaan. Medan perjuangan sosial
merupakan kancah hubungan-hubungan kekuatan antara berbagai jenis modal
tepatnya antara para pemilik modal-modal tertentu untuk dapat mendominasi
medan-medan perjuangan terkait.2

Menurut Bourdieu, di dalam masyarakat sebagai “sosial-fields”
terdapat berbagai macam medan sosial, seperti: medan ekonomi, medan politik,
medan akademik, medan seni-artistika, dan lain-lain, yang masing-masing
memiliki logika sendiri-sendiri. Bourdieu menggambarkan ranah perjuangan sosial
semacam mikro-kosmos sosial dalam makrokosmos sosial,3
di mana tiap-tiap mikro-kosmos bersifat homogen dan mandiri, meskipun
masing-masing mikrokosmos (ranah perjuangan) selalu dalam keterhubungan dengan
mikrokosmos-mikrokosmos (ranah-ranah perjuangan) yang lain. Untuk memberikan
pemahaman intuitif mengenai keseluruhan ranah (medan perjuangan sosial),
Bourdieu menggunakan analogi permainan.4
Menurut Bourdieu, dalam dunia sosial sebagai sosial fields, terdapat
berbagai macam permainan; di mana dalam setiap permainan memiliki aturan-aturan
tersendiri—memiliki aturan main sendiri-sendiri; dan setiap pelaku sosial yang
mau masuk,  atau (telah) berada di dalam,
setiap permainan harus mengetahui dan menguasai kode-kode dan aturan-aturan
permainannya. Tanpa pengetahuan dan penguasaan kode-kode dan aturan-aturan
permainan tersebut, setiap pelaku sosial yang memasuki dan berada di dalam
suatu permainan akan dengan mudah terlempar dari permainan tersebut.

Seperti layaknya sebuah permainan, mereka yang
dalam posisi dominan cenderung memilih strategi pertahanan (mempertahankan).
Sementara itu, mereka yang terdominasi (didominasi), demi keberhasilan
perjuangannya, akan berusaha untuk mengubah aturan main, biasanya, dengan
mendiskreditkan bentuk-bentuk modal yang menjadi tumpuan kekuatan lawan,
kelompok yang mendominasi. Karena itu, ketegangan dan konflik tak dapat dihindari.
Sebagai contoh dalam kasus partisipasi kaum santri di Jember yang menjadi fokus
studi ini, nampak sangat jelas bahwa para Kiai yang dalam posisi dominan juga
memilih strategi mempertahankan dominasinya; sementara itu, warga masyarakat santri
yang terdominasi berusaha mengubah aturan, antara lain, dengan membongkar mitos
“Kiai sebagai pewaris nabi dan sebagai uswatun hasanah”. Stigmatisasi
yang diberikan warga masyarakat Santri kepada Kiai-kiai yang kiblat dan
haluan politiknya tidak sejalan dengan komunitas basisnya sebagai orang-orang
yang telah “terbeli” dan menggadaikan umatnya, dan sebagai tokoh Islam
Tradisionalis yang tidak lagi setia kepada organisasi—dalam konteks ini
organisasi Nahdlatul Ulama PBNU, saya rasa dapat ditempatkan dalam konfigurasi
(kerangka) semacam ini. Selain itu stigmatisasi-stigmatisasi negatif terhadap
beberapa Kiai itu dengan sangat gamblang dimaksudkan untuk mendistorsi,
mendesakralisasi, dan mendelegitimasi posisi Kiai-Kiai dengan maksud merongrong
kewibawaan mereka.

1 Penting untuk dicatat bahwa, konesep ranah yang digunakan Bourdieu,
bukanlah ruang yang berpagar di
sekelilingnya; melainkan lebih sebagai „ranah kekuatan?. Lihat Cheleen Mahar, Richard
Harker, dan Chris Wilkes (eds.), An Introduction to the Work of
Pierre Bourdieu: TheTheory of Practice, (London: The Macmillan
Press Ltd., 1990); secara khusus, lihat edisi Indonesia, 9.

2 Ibid. Bourdieu, Raisons Practiques. Sur la
theorie de l?action, (Paris: Seuil, 1994), 23-45; sebagaimana dikutip
Haryatmoko dalam Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa…, BASIS edisi Nomor 11-12, Tahun ke-52, Nopember-Desember 2013,
15

3 Richard Jenkins, Pierre Bourdieu Routledge,..
lihat edisi Indonesia, 126; dan lihat juga Haryatmoko, Menyingkap Kepalsuan
Budaya Penguasa…, BASIS edisi Nomor 11-12, 2003 … 14.

4 Lihat lagi Cheleen Mahar, Richard Harker, dan
Chris Wilkes, An Introduction to the Work of Pierre Bourdieu: The
Practice Theory, edisi Indonesia, 8; dan Haryatmoko, Menyingkap
Kepalsuan Budaya Penguasa…, BASIS edisi Nomor 11-12…., 14

x

Hi!
I'm Harold!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out