PENGGUNAAN lain melalui bahasa lisan. Berdasarkan pengertian ini,

PENGGUNAAN METODE STORYTELLING
DENGAN MEDIA GAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA TAMAN KANAK-KANAKA.   
Latar Belakang

Taman Kanak-Kanak merupakan pendidikan formal bagi anak usia empat
sampai enam tahun. Usia tersebut bisa dikatakan merupakan masa emas (golden
age) bagi anak dalam hal menerima berbagai upaya pengembangan seluruh
potensi yang ada pada dirinya. Pada masa emas (golden age) itulah terjadi
kematangan fungsi psikis dan fisik anak dalam merespons rangsangan yang
diberikan oleh lingkungan sekitar untuk mendasari pengembangan kemampuan dasar
yaitu: berbahasa, kognitif, fisik/ motorik, dan sikap mandiri anak.1

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Pada dasarnya, kemampuan berbahasa merupakan suatu rangkaian bunyi yang
melambangkan pikiran, perasaan dan sikap seorang anak. Oleh karenanya, kemampuan
berbahasa anak perlu dikembangkan semaksimal mungkin. Kemampuan berbahasa ini
meliputi empat aspek, yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Tarigan
dalam bukunya, Berbicara sebagai
Kemampuan Berbahasa, mengatakan bahwa
setiap kemampuan, berhubungan erat dengan tiga kemampuan lainnya dengan cara
yang beraneka ragam. Dalam memperoleh kemampuan berbahasa, biasanya kita
memulainya dengan urutan yang teratur. Pertama-tama, kita belajar menyimak pada
masa kecil, kemudian belajar berbicara, dan sesudah itu kita belajar membaca serta
menulis. Kemampuan menyimak dan berbicara ini dipelajari sebelum memasuki
sekolah, sedangkan kemampuan membaca dan menulis biasanya dipelajari setelah
memasuki sekolah. Pada dasarnya, keempat kemampuan tersebut merupakan suatu
kesatuan yang tak terpisahkan.2

Berbicara merupakan suatu kemampuan berbahasa yang tumbuh pada
kehidupan seorang anak. Kemampuan berbicara ini harus didahului oleh kemampuan
menyimak karena pada masa menyimak itulah kemampuan berbicara baru bisa dipelajari.
Jadi, dapat dipastikan bahwa berbicara mempunyai hubungan dengan peningkatan
kosa kata yang dihasilkan oleh anak melalui kegiatan menyimak dan membaca. Berbicara juga dapat diartikan sebagai kemampuan
seseorang untuk mengeluarkan ide, gagasan, atau pikirannya kepada orang lain
melalui bahasa lisan. Berdasarkan pengertian ini, dapat diketahui bahwa
berbicara tidak hanya sekedar menyampaikan pesan tetapi juga tentang proses
melahirkan sebuah pesan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan berbicara merupakan suatu hajat
manusia sebagai makhluk sosial untuk melakukan komunikasi dengan orang lain.
Kemampuan berbicara ini memberikan sebuah gambaran tentang kesanggupan anak dalam
menyusun berbagai kosa kata yang telah dikuasainya menjadi suatu rangkaian
pembicaraan secara berstruktur, misalnya kemampuan anak mengulang kembali
penjelasan ataupun pembicaraan yang telah didengarnya dengan menggunakan
kata-kata atau kalimat yang sesuai sehingga dapat dimengerti oleh orang lain.
Oleh karena itu, diperlukanlah latihan, praktik serta penyesuaian yang rutin supaya
kemampuan anak dalam berbicara semakin meningkat. Apabila anak malu, ragu, atau
takut salah dalam berlatih berbicara, maka kepandaian atau kemampuan berbicara anak
pun akan akan jauh dari penguasaan.

Kemampuan berbicara yang jauh dari penguasaan, dapat disebabkan oleh
dua faktor. Pertama, penggunaan model atau metode pembelajaran yang ditentukan
oleh guru. Mayoritas, dalam melaksanakan pembelajaran guru kerap kali
menggunakan metode konvensional, seperti metode ceramah. Dalam metode
pembelajaran ini, siswa hanya menerima apa yang dijelaskan oleh guru sehingga
jangan heran jika siswa merasa bosan dan pasif di dalam kelas. Akibat dari metode
pembelajaran konvensional tersebut, kemampuan berbicara siswa tidak meningkat
karena siswa tidak pernah dilatih untuk berbicara atau diberikan kesempatan
untuk mengungkapkan pendapatnya. Kedua, sangat terbatasnya media
pembelajaran atau alat peraga yang digunakan oleh guru. Keterbatasan media
pembelajaran ini menyebabkan tidak adanya alat yang digunakan untuk merangsang
pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa ke arah terjadinya proses
belajar.

Masalah-masalah di atas perlu dicarikan jalan keluarnya agar
pembelajaran yang dilaksanakan dapat memberikan hasil yang optimal dan mampu
meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Salah satu jalan keluar yang dipilih
untuk mengatasi masalah rendahnya kemampuan berbicara siswa tersebut adalah
dengan menerapkan metode storytelling. Menurut Tampubolon dalam
Susilawati, metode storytelling adalah suatu kegiatan yang dilakukan
guru kepada siswanya secara verbal dengan atau tanpa alat peraga mengenai apa
yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau sebuah dongeng, yang
dikemas dalam bentuk cerita yang dapat didengarkan dengan rasa menyenangkan.3
Metode storyteliing juga merupakan cara bertutur kata dalam menyampaikan
sebuah cerita atau memberikan suatu penjelasan pada orang lain secara verbal.
Oleh sebab itu, tujuan metode storytelling adalah melatih daya tangkap, daya
pikir, dan daya konsentrasi anak, membantu meningkatkan imajinasi anak, serta menciptakan
suasana yang mengasyikkan dan bersahabat di dalam kelompok.4

Setiap
metode pasti memiliki kelebihan
dan kekurangan, begitu pula dengan
metode storytelling.
Menurut Dhieni dkk. dalam Prihanjani dkk., kelebihan metode storytelling,
yaitu dapat menjangkau jumlah anak yang lebih banyak,
dapat memanfaatkan
waktu yang tersedia dengan efektif dan efisien, dapat mengelola kelas menjadi
lebih sederhana, guru dapat mengendalikan kelas dengan mudah, dan tidak
memerlukan banyak biaya. Sedangkan kekurangan metode storytelling,
yaitu anak menjadi pasif
karena hanya mendengarkan atau
menerima penjelasan dari guru; 2. Kurang
mendorong perkembangan daya
kreasi dan kemampuan anak untuk menyuarakan
pendapatnya; 3. Daya serap atau
daya tangkap antara satu anak dengan anak lain berbeda dan masih lemah sehingga sukar memahami ide pokok
cerita; 4. Cepat menumbuhkan rasa jenuh terutama apabila penyampaiannya tidak
menarik.5

Untuk
minimalisasi kekurangan metode storytelling,
salah satu cara yang dapat digunakan, yaitu dengan menggunakan media
pembelajaran. Media pembelajaran itu sendiri merupakan suatu alat bantu yang
digunakan seorang guru untuk menunjang suatu proses pembelajaran sehingga
mempermudah pemahaman anak.6 Media pembelajaran
amatlah penting karena guru akan lebih mudah merancang suatu kegiatan
pembelajaran di dalam kelas sehingga kegiatan pembelajaran itu akan disenangi
oleh siswa dan mendatangkan hasil yang optimal. Banyak jenis media pembelajaran
yang bisa digunakan dan diterapkan untuk menunjang pembelajaran anak, salah
satunya ialah media visual/gambar. Menurut Prihanjani dkk., media visual/gambar
adalah media yang menyampaikan pesan melalui penglihatan atau media yang hanya
dapat dilihat.7
Jenis media ini merupakan yang paling sering digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran
untuk membantu menyampaikan isi materi yang sedang dipelajari.

Kegiatan storytelling merupakan bagian dari kemampuan berbicara. Kegiatan storytelling
mempunyai beberapa kegunaan bagi siswa Taman Kanak-Kanak, yaitu dapat memperbanyak
kosa kata, menyempurnakan kalimat, serta membiasakan  anak untuk berkomunikasi. Hal ini sejalan
dengan kegunaan metode storytelling yang dikemukakan oleh Janiar, dkk.,
yaitu memberikan anak kesenangan dan kenikmatan dalam mengembangkan imajinasi,
memberikan anak sebuah pengetahuan baru, memberikan anak pemahaman yang baik
tentang diri mereka sendiri dan orang lain di sekitar mereka, memberikan anak
pengalaman baru termasuk masalah-masalah yang ada di lingkungan sekitarnya, dan
anak belajar berbicara dalam gaya yang menyenangkan serta menambah
pembendaharaan kata dan bahasanya.8

Melihat pentingnya perkembangan berbicara pada anak, pemerintah menyusun
kurikulum Taman Kanak-Kanak dengan memberikan arahan kepada para guru Taman
Kanak-Kanak untuk dapat memotivasi anak agar mampu mendengarkan dan berbicara
secara baik dan benar, serta senang belajar menulis meskipun masih dalam bentuk
gambar atau simbol yang dapat mengekspresikan minat dan kemampuannya sejak
dini. Tetapi pada kenyataannya, pengajaran bahasa saat ini kurang mendapat
perhatian.

Kurangnya perhatian pada pelajaran berbahasa ini dapat memicu kemampuan
berbahasa anak menjadi kurang memadai. Pengajaran berbahasa pun masih
didominasi oleh aspek-aspek pengetahuan. Anak lebih banyak belajar tentang
bahasa, bukan belajar berbahasa sehingga kemampuan anak untuk menyusun sebuah
kalimat sederhana belum memadai. Padalah, pokok dasar berbahasa adalah melalui
pengalaman-pengalaman berkomunikasi yang produktif. Pengalaman berkomunikasi
yang produktif tersebut akan menunjang faktor-faktor bahasa yang lain yaitu: menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis.

Dengan demikian, andaikan kemampuan berbahasa, khususnya kemampuan
berbicara anak mengalami suatu masalah dan tidak ditangani secara serius, hal
ini tentu akan bepengaruh pada tujuan pendidikan yang lain, yaitu tidak dapat
mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri anak. Supaya kemampuan berbicara
anak meningkat sesuai dengan aspek-aspek perkembangan anak, maka pemilihan
metode dan media pembelajaran yang cocok dalam meningkatkan kemampuan berbicara
anak di Taman Kanak-Kanak adalah melalui metode storytelling dengan
media visual/gambar. Hal ini dikarenakan metode storytelling merupakan
salah satu metode pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar bagi anak Taman
Kanak-Kanak dengan membawakan cerita kepada anak secara verbal, dan dengan
digunakannya media visual/gambar, diharapkan cerita yang disampaikan oleh guru
akan jauh lebih mampu diterima dengan baik oleh anak.

Bertolak dari permasalahan yang ada, perlu dilakukan perbaikan terhadap
pembelajaran kemampuan berbicara. Oleh karena itu, peneliti melakukan
penelitian yang dirumuskan dalam judul “Penggunaan Metode Storytelling dengan
Media Gambar dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Taman Kanak-Kanak”.

 

B.   
Hasil Penelitian dan
Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode storytelling
dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa Taman Kanak-Kanak. Hal ini
disebabkan bagi siswa Taman Kanak-Kanak, mendengarkan cerita merupakan
aktivitas yang menyenangkan, apalagi jika sang guru menggunakan media tambahan
seperti gambar yang diambil dari buku-buku cerita ataupun yang dibuat sendiri
oleh guru. Kegiatan storytelling dengan media gambar memberikan
pengalaman belajar yang sangat komplit untuk anak, yaitu untuk mendengarkan
cerita yang diceritakan oleh guru, melatih penglihatan untuk melihat gambar
yang ditampilkan oleh guru, dan melatih daya ingat siswa untuk mengingat
gambar-gambar yang diperlihatkan sehingga cepat meresap di pikiran.

Dari hasil wawancara dan data yang diberikan oleh guru, hasil analisis
awal ditemukan bahwa nilai rata-rata kemampuan berbicara anak juga mampu
meningkatkan aspek kemampuan anak dalam mengungkapkan bahasa dengan nilai
rata-rata 40.30, kemampuan anak dalam menerima bahasa 41.51, dan kemampuan anak
dalam aspek keaksaraan 40.14. Setelah diadakan metode storytelling, pada
akhir siklus I menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam mengungkapkan bahasa
meningkat menjadi 56.66, kemampuan anak dalam menerima bahasa menjadi 56.47,
dan kemampuan anak dalam aspek keaksaraan menjadi 58.09. Sedangkan pada akhir
siklus II, aspek kemampuan anak dalam mengungkapkan bahasa semakin meningkat
menjadi 76.66, kemampuan anak dalam menerima bahasa menjadi 76.33, dan
kemampuan anak dalam aspek keaksaraan menjadi 77.65.

Berdasarkan keterangan di atas, dapat dilihat bahwa skor kemampuan
berbicara siswa mengalami peningkatan mulai dari tahap analisis awal, siklus I,
dan siklus II. Dengan peningkatan skor kemampuan berbicara tersebut, bisa
disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran menggunakan metode storytelling
dengan media gambar dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa Taman
Kanak-Kanak. Hal ini disebabkan metode storytelling dengan media gambar mampu
memberikan pengalaman belajar yang unik, mampu membangkitkan semangat, dan
mampu menimbulkan kesenangan tersendiri bagi siswa Taman Kanak-Kanak.

Keberhasilan
penelitian ini juga didukung oleh penelitian dari Ni
Luh Prihanjani, I Nyoman Wirya, dan Luh Ayu Tirtayani (2016) dengan judul “Penerapan Metode Bercerita Berbantuan Media Boneka Tangan untuk
Meningkatkan Kemampuan Berbicara Anak Usia 5-6”. Hasil penelitian yang dilakukan Prihanjani, dkk,. menunjukkan
bahwa penerapan metode bercerita berbantuan media boneka tangan dapat
meningkatkan hasil belajar kemampuan berbicara anak usia 5-6 tahun di TK Dharma
Kartini Les Buleleng tahun pelajaran 2016/2017. Hal ini dibuktikan dengan
adanya peningkatan rerata hasil belajar kemampuan berbicara anak pada siklus I sebesar
63,5% dengan kategori rendah menjadi 88,6% pada siklus II dengan kriteria
tinggi. Jadi, terjadi peningkatan belajar sebesar 25,1%.

 

C.   
Simpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa
penggunaan metode storytelling dengan media gambar dapat
meningkatkan kemampuan berbicara siswa Taman Kanak-Kanak. Hal ini dibuktikan
dari peningkatan dalam aspek: 1. Kemampuan anak dalam mengungkapkan bahasa
dengan nilai rata-rata 56.66 pada siklus I, meningkat pada siklus II dengan
nilai rata-rata 76.66; 2. Kemampuan anak dalam menerima bahasa dengan nilai
rata-rata 56.47 pada siklus I, meningkat pada siklus II dengan nilai rata-rata
76.33; 3. Kemampuan anak dalam aspek keaksaraan dengan nilai rata-rata 58.09
pada siklus I,  meningkat pada siklus II
dengan nilai rata-rata 77.65.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, berikut saran-saran yang dapat di
berikan: 1. Guru diharapkan mampu menggunakan metode storytelling dalam
pembelajaran agar dapat meningkatkan mutu pembelajaran sesuai indikator yang
ingin ditingkatkan; 2. Guru harus mampu menumbuhkan keaktifan para siswa dengan
berbagai metode, media pembelajaran atau pendekatan yang bervariasi dalam
mengajar sehingga suasana belajar menyenangkan dan dapat meningkatkan kemampuan
berbicara siswa tanpa mengabaikan kemampuan-kemampuan lainnya, seperti
menyimak, membaca, dan menulis.

       1 “Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia
Dini” (2009).

       2 Henry Guntur Tarigan, Berbicara
sebagai Kemampuan Berbahasa (Bandung: Angkasa, 2008), h. 1–3.

       3 Endang Susilawati, Zulkifli N., dan
Ria Novianti, “Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Melalui Metode
Storytelling dengan Media Rotatun pada Anak Usia 4-5 Tahun di PAUD Harapan
Kecamatan Sail,” Jurnal Online Mahasiswa Bidang Keguruan dan Ilmu Pendidikan
3, no. 1 (2016): h. 3.

       4 Hasnidar, “Penerapan Metode Story
Reading untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Anak Usia 5-6 Tahun di TK
Melati/ABA 005 Pulau Balai,” Jurnal Primary 4, no. 2 (Oktober 2005): h. 146.

       5 Ni Luh Prihanjani, I Nyoman Wirya, dan
Luh Ayu Tirtayani, “Penerapan Metode Bercerita Berbantuan Media Boneka Tangan
untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Anak Usia 5-6,” Jurnal Pendidikan
Anak Usia Dini 4, no. 3 (2016), http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPAUD/article/download/8822/5709.

       6 Prihanjani,
Wirya, dan Tirtayani.

       7 Prihanjani,
Wirya, dan Tirtayani.

       8 Intan Janiar, Siti Halidiyah, dan
Suryani, “Peningkatan Kemampuan Berbicara dengan Menggunakan Metode Story
Telling di Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran 3, no. 7
(2014): h. 2.

x

Hi!
I'm Harold!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out